Home / Indeks / MAULID NABI : Membangun Integritas Pribadi dengan Meneladani Sifat-Sifat Nabi.

MAULID NABI : Membangun Integritas Pribadi dengan Meneladani Sifat-Sifat Nabi.

Berbicara tentang Integritas, terlebih dahulu baik dipahami makna kata tersebut. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata integritas sebagai keterpaduan, jujur, dan dapat dipercaya.  Kata integral diartikan sebagai menenai keseluruhan  juga meliputi seluruh bagian yang perlu untuk menjadikan lengkap utuh, bulat, sempurna.

Jika demikian halnya, maka adalah satu kemutlakan bagi yang ingin memahami lebih dalam tentang makna integritas sesuatu, memahami terlebih dahulu bagian-bagian dari sesuatu yang kesemuanya harus terpadu/dipadukan sehingga dia  menjadi utuh, bulat, dan sempurna. Integritas pribadi menuntut keterpaduan dalam diri pribadi semua potensi yang terdapat dalam diri manusia agar fungsinya sebagai manusia dapat terlaksana dengan baik melalui manusia yang utuh itu.

Manusia dalam pandangan Agama tercipta dari debu tanah dan ruh ilahi. Perpaduan keduanya dalam kadar-kadar tertentu melahirkan manusia. Dari debu tanah lahir jasad dan dari ruh ilahi lahir potensi berpikir, beriman dan berkhayal, serta semangat.

Yang mencapai peringkat tertinggi dari integritas pribadi dinamai Insan Kamil, yaitu yang dapat mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk, karena manusia –dalam bahasa Kitab Perjanjian Lama – diciptakan Tuhan “sesuai peta-Nya” dan –dalam Bahasa Hadits Nabi saw. – ‘Ala Shuratihi.

Sifat-sifat yang harus menghiasi setiap Nabi, yakni Ash-Shidiq, al-Amanah, at-Tablig, dan al-Fathanah. Itulah indokator dan tolak ukur integritas pribadi seseorang.

Yang dituntut oleh sifat ash-Shidiq bukan sekedar kesungguhan dan kesempurnaan dalam tugas/pekerjaan yang dilakukan, termasuk disini adalah disiplin yang kuat, tetapi juga dalam berbagai aspek/cara yang ditempuh. Itu sebabnya kitab suci Al-Quran menggunakan kata tersebut, antara lain, untuk menyifati sekian banyak hal, seperti qadam/kedudukan (QS. Yunus [10]:2), mubawwa’/tempat kediaman (QS. Yunus [10]:93), mudkhala dan mukhraja/ tempat masuk dan keluar (QS. Al-Isra [17]:80, dan lain sebagainya.

Yang memiliki integritas pribadi dituntut agar bersungguh-sungguh dalam tugas, bahkan segala aktivitasnya serta menggunakan cara dan menampilkan kebenaran dan ketepatan dalam kesehariannya.

Kata Amanah seakar dengan kata iman dan aman. Amanah  adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain untuk dipelihara dan dikembalikan bila tiba saatnya atau bila diminta oleh pemiliknya. Memang sebelum menerima Amanah, seseorang harus menyadari bahwa ada unsur pokok yang harus mereka penuhi, yaitu kompetensi, komitmen, kerja keras, dan konsistensi, lalu setelah menerimanya, maka komitmen harus tinggi dan kerja keras harus selalu dikedepankan dan itu semua bukan hanya pada awal penerimaan amanah, tetapi berlanjut hingga akhir secara bersinambung dan konsisten.

Amanah juga biasa diartikan dengan kejujuran, yakni kejujuran terhadap Allah, terhadap sesame makhluk, dan terhadap diri sendiri. Tidaklah jujur seseorang yang menggambaran kepada binatang, bahawa ia akan memberinya makan, padahal ketika binatang itu datang mendekat, ia tidak memberinya makan.

At-Tabligh adalah menyampaikan apa yang harus disampaikan. Tabligh  juga diartikan dengan keterbukaan. Keterbukaan ini bukan menyampaikan apa yang seharusnya dirahasiakan, tidak juga mengabaikan unsur waktu, tempat dan sasaran. Namun, yang jelas Tabligh atau keterbukaan itu melahirkan pengetahuan bersama yang pada gilirannya menghasilkan sense of belonging/rasa kepemilikan bersama. Salah satu contoh tabligh yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Adalah menyampaikan pesan-pesan Allah, walau hal tersebut merupakan teguran bagi beliau.

Al-Fathanah yakni kecerdasan. Seperti kecerdasan spiritual yang melahirkan kepekaan yang mendalam. Fungsinya mencakup hal-hal yang bersifat supranatural dan religious. Dialah yang menegaskan wujud Tuhan, melahirkan kemampuan untuk menemukan makna hidup, serta memperhalus budi pekerti, dan dia juga yang melahirkan mata ketiga atau indra keenam bagi manusia.

Kemudian ada Kecerdasan emosional yang membuat manusia mampu mengendalikan nafsu, bukan membunuh dan meniadakannya. Kita tidak dilarang marah, kita hanya diperintahkan untuk menahan amarah (Baca QS. Ali Imran [3]:134).

Kecerdasan emosional menjadikan jiwa manusia seimbang, keseimbangan yang dapat menjadikannya berfikir logis, objektif, bahkan memiliki kesehatan dan keseimbangan tubuh. Siapa yang kecerdasaan spiritual dan emosional-nya berfungsi dengan baik,  maka akan selamat pula anggota badannya dari segala kejahatan dan selamat pula hatinya dari segala maksud buruk.

Demikian sekelumit dari makna integritas pribadi dalam sifat-sifat yang dimiliki oleh baginda Nabi Muhammad saw.yang patut kita contoh dan teladani dalam mengarungi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Semoga bermanfaat. Wa Allah A’lam.

Oleh: Ahmad Lutfi Rijalul fikri, S.E.I.,ME.

Intisari: Membumikan Al-Quran (Prof.DR.Quraish Shiahab)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*