STADIUM GENERAL 2018/2019

0
Dewasa ini dunia Islam disuguhi dengan berbagai macam realitas keislaman: ada kelompok Islam yang diidentifikasikan dengan ekstremis-teroris, ada yang fundamentalis, ada yang moderat (wasath), dan ada pula yang liberal. Sebetulnya, berbeda dalam berislam sudah ada sejak zaman dulu –bahkan pada zaman khulafaur rasyidin dimana ada kelompok khawarij misalnya.
Lalu, model keislaman seperti apa yang sesuai dengan Al-Qur’an?  Dan sesuai dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad saw?  Jika merujuk Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 143 dimana umat Islam dijadikan sebagai umat yang adil (wasath), maka sudah semestinya model Islam yang adil, tengahan, moderat, wasath lah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan yang diajarkan Nabi Muhammad saw.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, model Islam wasath, moderat, adil, dan tengahan itu yang seperti apa? Apa tanda-tanda atau ciri-cirinya?  Mengacu dalam buku Moderasi Islam, setidaknya ada enam ciri-ciri bersikap moderat dalam berislam.
Pertama, memahami realitas. Dikemukakan bahwa Islam itu relevan untuk setiap zaman dan waktu (shalih li kulli zaman wa makan). Disebutkan juga bahwa ajaran Islam itu ada yang tetap dan tidak bisa dirubah –seperti shalat lima waktu, dan ada juga yang bisa dirubah karena waktu dan tempat –seperti zakat fitrah dengan beras, gandum, atau sagu tergantung yang menjadi makanan pokok pada masyarakat itu.  Umat Islam yang bersikap moderat (wasath) adalah mereka yang mampu membaca dan memahami realitas yang ada. Tidak gegabah atau ceroboh. Mempertimbangkan segala sesuatu, termasuk kebaikan dan keburukannya.
Kedua, memahami fiqih prioritas. Umat Islam yang bersikap moderat sudah semestinya mampu memahami mana-mana saja ajaran Islam yang wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Mana yang fardlu ‘ain(kewajiban individual) dan mana yang fardlu kifayah (kewajiban komunal). Di samping memahami mana yang dasar atau pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu).
Ketiga, memberikan kemudahan kepada orang lain dalam beragama. Ada istilah bahwa agama itu mudah, tapi jangan dipermudah. Pada saat mengutus Muadz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari ke Yaman untuk berdakwah, Nabi Muhammad saw. berpesan agar keduanya memberikan kemudahan dan tidak mempersulit masyarakat setempat.
Keempat, memahami teks keagamaan secara komprehensif. Perlu dipahami bahwa satu teks dengan yang lainnya itu saling terkait, terutama teks-teks tentang jihad misalnya. Ini yang biasanya dipahami separuh-separuh, tidak utuh, sehingga jihad hanya diartikan perang saja. Padahal makna jihad sangat beragam sesuai dengan konteksnya.
Kelima, bersikap toleran. Umat Islam yang bersikap moderat adalah mereka yang bersikap toleran, menghargai pendapat lain yang berbeda –selama pendapat tersebut tidak sampai pada jalur penyimpangan. Karena sesungguhnya perbedaan itu adalah sesuatu yang niscaya. Intinya sikap toleran adalah sikap yang terbuka dan tidak menafikan yang lainnya.
Keenam, memahami sunnatullah dalam penciptaan. Allah menciptakan segal sesuatu melalui proses, meski dalam Al-Qur’an disebutkan kalau Allah mau maka tinggal “kun fayakun.” Namun dalam beberapa hal seperti penciptaan langit dan bumi –yang diciptakan dalam waktu enam masa. Pun dalam penciptaan manusia, hewan, dan tumbuhan. Semua ada tahapannya.
untuk mengelaborasi ciri-ciri islam moderat dengan berlandaskan Kutubutturats yang menjadi rujukan awal bagi mahasiswa pesantren, panitia penerimaan Mahasiswa Baru STIS Darul Falah tahun ajaran 2018/2019 mengundang Dr. Imam Nakha’i (Ahli Fikih dari Situbondo) untuk memaparkan tentang pentingnya Islam Moderat dalam menangkal paham-paham radikalisme dalam Islam.

Leave A Reply

Your email address will not be published.